Popular Posts

Pages

Categories

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.

Drive

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Drama
Ga ada pancingan yang bikin gw tertarik untuk nonton film ini selain rekomendasi dari temen kantor dan review dari iMDb. Yang pada akhirnya gw terpuaskan oleh cerita yang bagus, alur yang rapi, dan tentu saja, soundtrack yang keren banget.

Meskipun sebenernya, film yang jadi juara best director di Cannes Film Festival ini agak2 mengecewakan dari sinematografi dan pemotongan scene2-nya, sehingga terasa sangat membosankan di awal cerita (pengenalan karakter2nya), ya karena memang bukan film Hollywood.

Ceritanya sih simple, Driver, seorang pekerja bengkel yang part-time sebagai stuntman di sebuah film dan juga bekerja sebagai supir yang disewa perampok bank harus terlibat dalam sebuah kasus pencurian dan konflik yang ternyata harus melibatkan orang2 terdekat di sekitarnya.

Bagi gw, ini adalah one of the best movies in 2011


< >

Pacu Adrenalin di Universal Studios Singapore

Seneng itu adalah, saat akhirnya bisa kesampean juga masuk Universal Studios Singapore. Jujur gw sih bukan 'theme park' hunter, tukang ikut2an, atau yang memang punya budget tebel untuk trip ke sana ke mari. Yang jelas, tiket promo Air Asia, beberapa pancingan dan review2 dari temen2 dan beberapa artikel di internet berhasil membawa gw ke tempat ini.

Minggu kemarin (4/12/2011) ternyata adalah tanggal yang tepat, karena itu adalah hari kedua atraksi Transformers The Ride dibuka, yang pada saat pertama kali masuk gw ga berekspektasi sama sekali, dan ternyata, luar biasa kagumnya gw sama atraksi yang bikin gw bangga karena bisa masuk di 2 hari pertama pembukaannya ini. Kecanggihan simulator atraksi ini bikin gw bener2 masuk ke aksi yang ada di cerita di dalamnya. Transformers The Ride ini adalah yang paling gw suka dari seluruh wahana di Universal Studios Singapore.

Source: koleksi pribadi

Selain Transformers The Ride, gw juga akhirnya bisa menjajal kengerian 2 roller coaster yang paling gokil yg pernah gw naikin, yaitu Battlestar Galactica, Human dan Cylon. Ga ada apa2nya Halilintar di Dufan sama wahana ini :D, track-nya bisa 2 atau 3 kali lipat lebih panjang dan lebih bikin pusing dan cukup bikin kaki lemes. Baik itu Cylon atau Human, dua2nya punya kengerian sendiri2, meskipun banyak yang bilang Cylon lebih ngeri.

Source: koleksi pribadi

Satu lagi atraksi yang bikin jantungan. Revenge of The Mummy, jet coaster indoor berkecepatan tinggi dalam kegelapan. Atraksi 'nyebelin' yang ga pernah diprediksi kapan lo akan melesat naik dan kapan lo akan terjun turun ini, di ruang antrian aja nuansa seremnya udah berasa banget, gelap2 nyeremin gimanaa gitu... Pokoknya top banget wahana ini.



Ga ada salahnya kalo mampir ke sini, dijamin ga nyesel kalo nyobain semuanya.
< >

The Perfect House

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Horror
Bagi sebagian orang ending yang twisted itu kadang memang keren, namun bagi gw, bukan hanya ending twisted dan ide cerita yang bagus aja yang jadi patokan film itu keren atau enggak.

Di film ini, kekuatan sebuah ide cerita memang betul2 ditunjukkan kuat. Alur dengan flow yang 'berirama' menjadi satu dari beberapa hal yang gw suka dari film ini, dan film2 Indonesia pada umumnya.

Namun sayang, dengan kurang dibekalinya dengan cast yang prima, environment yang mendukung, sinematografi yang total, dan pemenggalan scene2 yang maksimal, film ini bagi gw hanya sebagai sandiwara panggung di dalam teater, bahkan teater pun mungkin bisa lebih bagus dari film ini.

Kekakuan dialog khas film2 Indonesia menjadi penilaian pertama gw saat menonton di 10 menit pertama, meskipun pada akhirnya gw mencoba untuk beradaptasi dengan semua dialog2 yang gak natural tersebut karena memang gw hanya penasaran dengan ceritanya, bukan dengan bagaimana seluruh cast di film ini berdialog.

Sebuah kemajuan film Indonesia ataukah hanya langkah semu, penilaian bisa diberikan pada masing2 individu… Bagi gw, film kelas festival ini memang cukup layak tonton, namun jangan takut juga untuk kecewa. :D

Selamat menonton...


< >

The Unborn Child 2002

Rating:★★
Category:Movies
Genre: Horror
Saat pertama kali melihat poster film visual 2 orang tua dan 1 orang anak di film ini, terbayang di benak gw sebuah cerita horor yang menghantui sebuah keluarga. Ternyata dugaan gw memang benar, film yang dibintangi beberapa artis seksi Thailand ini punya konsep seperti itu.

Masih dengan ciri khas horor Thailand-nya yang sangat bikin deg-degan, film yang menceritakan tentang kisah nyata kematian 2002 bayi yang diaborsi di Thailand ini membawa penonton ke beberapa scene nanggung yang gak klimaks, maksudnya cuma bikin deg-degan aja tanpa memperlihatkan hantunya. Ending-nya pun sepertinya agak2 maksa.

Cerita film ini dibilang bagus enggak, dibilang jelek juga enggak. Namun sebenernya punya pesan moral yang bagus, tentang aborsi dan pergaulan sex bebas, namun bagi gw komunikasinya masih terlalu direct karena berupa teks2 dan narasi.

Boleh lah kalo mau nonton sebagai selingan...


< >

Final Destination 5 3D

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Horror
Semenjak kemunculan Final Destination (FD) pertama di tahun 2000 lampau, sekuel FD ini terus dibuat dengan ketegangannya yang konsisten dari seri ke seri. Tahun ini, sambungan film dibuat lagi dengan konsep serupa namun tentu saja dengan special effect yang lebih canggih.

Sama seperti sekuel sebelum-sebelumnya, FD kelima ini diawali dengan cerita kematian sadis satu persatu orang pada sebuah kecelakaan, yang ternyata hanya sebuah firasat buruk yang kemudian membawa mereka selamat dari kecelakaan yang ternyata benar-benar terjadi.

Satu-satu dari korban yang selamat dari kecelakaan tersebut terus diincar oleh kematiannya sendiri, hingga gak ada dari mereka yang selamat.

Hal yang paling dicari dari seri-seri FD ini sebenernya bukanlah alur cerita, karena memang di setiap sekuel pasti gitu2 aja, tapi ketegangan dari tiap2 kematian orang2 yang ada di film itulah yang bikin seru.

Bagi gw film ini cukup menarik buat ditonton. Meski ternyata pada akhirnya gw ga napsu makan seharian gara2 keinget2 beberapa adegan di film ini...

FD seri kelima ini juga ternyata ada keterkaitan dari seri2 sebelumnya. Penasaran? Tonton aja :D


< >

Captain America: The First Avenger


Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Banyak yang ga menyadari kalo bagian terpenting sebuah film itu ada di dalam endingnya. Seperti halnya saat kita menyisakan suapan terakhir sewaktu makan, ga akan berkesan apa2 mungkin jika bagian2 terakhir yang paling enak di dalam makanan tersebut ga kita sisakan dulu.

Begitupun saat menikmati film ini, terpaksa gw harus menunggu untuk menikmati kejutan ternikmat yang katanya oke banget, dan ternyata ending film ini memang ga mengecewakan.

Berangkat dari kisah gigihnya seorang pria bernama Steve Rogers yang gak pernah berhasil lulus masuk akademi militer di era Nazi, dan terus berusaha agar dirinya masuk militer Amerika, film ini memberi alur yang informatif mengenai kisah awal munculnya pria kuat dan tangguh yang kemudian diberi julukan Captain America, dan menggambarkan cerita bagaimana asal muasal semuanya terjadi, termasuk alasan kenapa jubahnya bermotif bendera Amerika.

Ga ada yang disayangkan dari film ini kecuali cerita di bagian awalnya yang jalannya datar, kurang gereget, dan mungkin sedikit agak membosankan, terlebih bagi gw yang kurang suka dengan film yang ber-setting era 40-an.

Alhamdulillah yah pokoknya film ini sesuatu banget, terlebih buat ditonton rame2 atau sama pacar berduaan. Go enjoy the movie! ;)



Bocoran dikit: Jangan beranjak dari tempat duduk dulu sampai credit title-nya abis, bakal ada kejutan pokonya :p
< >

Vanishing on 7th Street

Rating:★★
Category:Movies
Genre: Horror
Film yang waktu gw tonton masih tayang di jam midnight ini mungkin jadi satu dari beberapa film yang gw sedikit tidak rekomendasikan untuk ditonton, tapi ga salah juga kalo emang penasaran atau lagi pengen banget nonton tapi ga tau mau nonton apa.

Bagi gw sih sebenernya untuk menonton film yang dibintangi Hayden Christensen, pemeran Anakin Skywalker ini bukan hal yang menarik, tapi berhubung gw suka banget sama film bergenre seperti ini, jadi ya penasaran aja, apalagi udah lama juga ga liat si Hayden yang gw suka banget aktingnya ini main film.

Di sepanjang film, penonton disuguhkan nuansa spooky sebuah kota mati yang ternyata bisa juga kita saksikan di banyak film thriller yang mengusung konsep serupa, sebut aja I am Legend, atau The Happening, atau 28 Weeks Later, dan masih banyak film lain, jadi menurut gw film ini gak surprising2 amat.

Ide ceritanya simpel, meskipun sebenernya agak2 absurd. Sejumlah penduduk kota tiba2 dikejutkan oleh hilangnya orang2 yang terjadi secara mendadak. Namun beberapa orang selamat dari kejadian lenyap tiba2 tersebut dan berusaha untuk survive dengan selalu menyalakan sinar, baik itu dari lampu, api, dan lainnya. Ternyata hilangnya orang2 di kota tersebut disebabkan oleh bayangan yang mengejar2 mereka di kegelapan.

Bingung mau ngasih bintang 3 (lumayan tapi ga bagus2 amat), atau 2 (sampah tapi ga jelek2 amat), akhirnya gw kasih bintang 2,5.

Well, great job for Hayden to bring this crap movie into the good tolerable one...


< >

Catatan Harian si Boy


Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Drama


Ga ada ekspektasi apa2 saat menonton film garapan sutradara Putrama Tuta yang katanya bukan merupakan sekuel film Catatan Si Boy yang dulu sempet dibuat itu, hanya penasaran aja sama scene nge-drift di Bunderan HI yang katanya keren itu, dan ternyata emang keren... ga ada duanya di film2 Indonesia yang lain...

Settingannya oke, alur cerita lumayan rapi, sinematografi keren, namun dari segi ide, entah kenapa film ini terasa biasa banget, jauh dari bagus... seperti layaknya baca novel2 yang kalo udah abis bacanya, ya udah males nyimpen bukunya :p..

Carissa Puteri juga ternyata ga menunjukkan akting yang jago2 amat di film ini, dialog yang harusnya natural kok dibawakan sangat cheesy... Sementara Ario Bayu bisa dibilang cukup jago membawakan karakter Satrio yang cuek, retroseksual, dan playboy (atau mungkin emang karakter aslinya seperti itu). Namun entah kenapa karena skenarionya yang agak2 garing atau gimana, Ario terlihat terlalu formal di beberapa scene. Kesimpulannya, mereka berdua terkesan terlalu terbawa euphoria tokoh utama karena jaim, jadi dialog yang mereka bawakan sangat terkesan garing.

Lain halnya pemeran Herry dan Andi, (Albert Halim dan Abimana Setya) juara banget baik itu akting, peran maupun karakternya di film ini, gw sangat suka bagaimana cara mereka membawakan 2 karakter berbeda dan bagaimana mereka mengolah skenario menjadi sebuah dialog yang natural dan nggak mengada2.

Ada satu line tentang persahabatan yang gw suka banget di film ini, kalo ga salah dialognya begini:

kita itu keluarga, kalo kita terpecah belah, masih bisa dibangun lagi


Itu kalo ga salah lho yaaa.. pokonya intinya begitu deh... :p

Overall, bagus ga bagusnya film ini memang tergantung yang menontonnya, bagi gw ini adalah satu langkah baru buat dunia perfilman nasional untuk lebih maju, gw tetep merekomendasikan untuk nonton film ini.

< >

Ladda Land

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Horror
Adalah benar jika ajakan nonton midnight merupakan hal yang menyenangkan. Benar pula jika nontonnya juga rame-rame. Namun meskipun salah rasanya kalo film yang dipilih adalah HOROR THAILAND, kita tetep penasaran untuk nonton Ladda Land, film yang katanya recommended ini.

Kutipan singkat yang diambil dari situs Blitz Megaplex:

Thee Yang berpikir bahwa jika ia tidak dapat memberikan rumah yang bagus untuk keluarganya, maka ia bukan ayah dan suami yang baik. Ketika ia mendapatkan kesempatan kerja dengan gaji yang lebih tinggi, ia mengambil kesempatan itu dan akhirnya dapat memilih rumah idamannya. Ia pun mengajak keluarganya untuk pindah. Bayangan kenyamanan tinggal di rumah baru itu seketika buyar saat hari demi hari mereka selalu diganggu oleh hal-hal yang misterius yang menyeramkan.


Singkat cerita, dari segi ketegangan, film ini memang cukup juara. Sinematografi dan latar belakang dibuat sesederhana mungkin agar kesan naturalnya dapet, itulah yang bikin gw merasa seolah2 seperti berada di dalam film ini.

Di awal cerita, film ini memang terlihat seperti iklan asuransi atau iklan program keluarga berencana, karena nuansanya keluarga bahagia banget, namun ternyata semua keindahan2 tadi berbalik menjadi sebuah keruwetan yang ga abis2...

Kurangnya film ini, temanya terlalu beraneka ragam, jadi seperti ga fokus dengan satu atau dua tema aja. Masalah keluarga, kerjaan, dan teror hantu begitu banyak dimunculkan di dalam film ini yang bikin gw sendiri stress nontonnya.

Overall, dibanding bengong nungguin film2 box office yang ga jelas juntrungannya atau nonton film2 gajebo, film ini cukup recommended lah ya...

Selamat menonton... ;)




< >

Scream 4

Rating:★★
Category:Movies
Genre: Horror
Seperti biasanya, saya selalu penasaran dengan film yang ceritanya bersambung, apalagi kalo udah pernah nonton sekuel sebelumnya, jadi kali ini Scream 4 menjadi daya tarik saya untuk mengembalikan ingatan saya akan memori 10 tahun lalu, saat sekuel ketiga dirilis.

Dan ternyata sayangnya, ga ada yang begitu spesial dari sekuel keempat ini, alur cerita hanya dibuat seolah2 berulang kembali, berbagai ketegangan dan scene bisa dirasakan serupa di sekuel sebelumnya, dan rasanya berbagai celaan dan parodi akan terus mengalir untuk merespon sekuel yang (sepertinya) belum akan berakhir ini. Lucunya, di awal cerita, film ini seakan2 mengolok2 dan menjelek-jelekkan dirinya sendiri, dan beberapa film sekuel horor dan thriller lainnya.

Diceritakanlah Sydney Prescott, seorang penulis yang kembali ke kota asalnya, Woodsboro, dalam rangkaian tur terakhir peluncuran buku terbarunya. Kedatangan Sydney ternyata membawa ancaman tersendiri bagi Ghostface, si pembunuh bertopeng yang eksistensinya cukup terkenal di kota Woodsboro. Cerita pembunuhan oleh si Ghostface juga dijadikan bahan cerita di buku dan film. Merasa tidak terima, teror dan ancaman terus terjadi di kota kecil tersebut.

Well, sebelum menontonnya memang saya ga berekspektasi apa2, hanya saja berharap settingan, alur dan ketegangan mungkin bisa lebih baik dari sekuel sebelumnya.

Tapi ternyata, rasanya sama seperti saat saya menontonnya di tahun 90an, lebih dari 10 tahun yang lalu ga ada yang berbeda. Dewey, sherif bloon yang selalu telat ke lokasi kejadian, Gale, reporter kepoh yang pengen tau banget siapa pembunuh berantai orang2 terdekat Sydney, cewek2 cantik yang jadi korban pembunuhan, dan pembunuh yang ternyata tidak diduga sebelumnya, etsetra etsetra... bener2 ga ada konsep yang baru sama sekali. Saya kecewa menontonya.

So, I think this movie is

not really recommended




< >

Insidious

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Horror
Ga ada yang mengalahkan ketegangan gw semalam selain film "rese" berjudul Insidious yang 'bodohnya' gw tonton pas midnight di Platinum XXI semalem.

Sebelum penasaran untuk nonton, pastinya gw cek dulu review-nya di sini, dan hasilnya, filmnya ga mengecewakan ;)

Film yang berdurasi sekitar 103 menit ini berkisah tentang Dalton, seorang anak laki-laki yang dihantui oleh arwah2 jahat yang mau menguasai tubuhnya karena rohnya sendiri lepas dari tubuhnya dan tersesat di alam baka hingga tubuhnya koma selama lebih dari 3 bulan.

Di awal cerita, film ini merupakan film yang lumayan mudah ditebak, karena sepengalaman gw nonton film horor barat, settingan cerita seperti pindah rumah baru, anak kecil yang kerasukan, atau penampakan2 yang mengagetkan sudah biasa di film-film horor. Namun yang bagus dari film ini adalah saat dimana ketegangan2 dan kengerian2 di beberapa scene khas film horor tersebut diracik begitu sempurnanya sehingga sanggup bikin gw yang notabene males nonton film horor menjadi begitu excited hinga akhir cerita.

Overall, film yang juga digarap oleh para pembuat Paranormal Activity dan Saw ini mampu menjadi salah satu film horor favorit gw, dengan tanpa mengekspos darah2, bunuh membunuh, dan hal lain yang ga masuk akal untuk sebuah film horor.

Recommended Gan!!!




< >