Popular Posts

Pages

Categories

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.

Vanishing on 7th Street

Rating:★★
Category:Movies
Genre: Horror
Film yang waktu gw tonton masih tayang di jam midnight ini mungkin jadi satu dari beberapa film yang gw sedikit tidak rekomendasikan untuk ditonton, tapi ga salah juga kalo emang penasaran atau lagi pengen banget nonton tapi ga tau mau nonton apa.

Bagi gw sih sebenernya untuk menonton film yang dibintangi Hayden Christensen, pemeran Anakin Skywalker ini bukan hal yang menarik, tapi berhubung gw suka banget sama film bergenre seperti ini, jadi ya penasaran aja, apalagi udah lama juga ga liat si Hayden yang gw suka banget aktingnya ini main film.

Di sepanjang film, penonton disuguhkan nuansa spooky sebuah kota mati yang ternyata bisa juga kita saksikan di banyak film thriller yang mengusung konsep serupa, sebut aja I am Legend, atau The Happening, atau 28 Weeks Later, dan masih banyak film lain, jadi menurut gw film ini gak surprising2 amat.

Ide ceritanya simpel, meskipun sebenernya agak2 absurd. Sejumlah penduduk kota tiba2 dikejutkan oleh hilangnya orang2 yang terjadi secara mendadak. Namun beberapa orang selamat dari kejadian lenyap tiba2 tersebut dan berusaha untuk survive dengan selalu menyalakan sinar, baik itu dari lampu, api, dan lainnya. Ternyata hilangnya orang2 di kota tersebut disebabkan oleh bayangan yang mengejar2 mereka di kegelapan.

Bingung mau ngasih bintang 3 (lumayan tapi ga bagus2 amat), atau 2 (sampah tapi ga jelek2 amat), akhirnya gw kasih bintang 2,5.

Well, great job for Hayden to bring this crap movie into the good tolerable one...


< >

Catatan Harian si Boy


Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Drama


Ga ada ekspektasi apa2 saat menonton film garapan sutradara Putrama Tuta yang katanya bukan merupakan sekuel film Catatan Si Boy yang dulu sempet dibuat itu, hanya penasaran aja sama scene nge-drift di Bunderan HI yang katanya keren itu, dan ternyata emang keren... ga ada duanya di film2 Indonesia yang lain...

Settingannya oke, alur cerita lumayan rapi, sinematografi keren, namun dari segi ide, entah kenapa film ini terasa biasa banget, jauh dari bagus... seperti layaknya baca novel2 yang kalo udah abis bacanya, ya udah males nyimpen bukunya :p..

Carissa Puteri juga ternyata ga menunjukkan akting yang jago2 amat di film ini, dialog yang harusnya natural kok dibawakan sangat cheesy... Sementara Ario Bayu bisa dibilang cukup jago membawakan karakter Satrio yang cuek, retroseksual, dan playboy (atau mungkin emang karakter aslinya seperti itu). Namun entah kenapa karena skenarionya yang agak2 garing atau gimana, Ario terlihat terlalu formal di beberapa scene. Kesimpulannya, mereka berdua terkesan terlalu terbawa euphoria tokoh utama karena jaim, jadi dialog yang mereka bawakan sangat terkesan garing.

Lain halnya pemeran Herry dan Andi, (Albert Halim dan Abimana Setya) juara banget baik itu akting, peran maupun karakternya di film ini, gw sangat suka bagaimana cara mereka membawakan 2 karakter berbeda dan bagaimana mereka mengolah skenario menjadi sebuah dialog yang natural dan nggak mengada2.

Ada satu line tentang persahabatan yang gw suka banget di film ini, kalo ga salah dialognya begini:

kita itu keluarga, kalo kita terpecah belah, masih bisa dibangun lagi


Itu kalo ga salah lho yaaa.. pokonya intinya begitu deh... :p

Overall, bagus ga bagusnya film ini memang tergantung yang menontonnya, bagi gw ini adalah satu langkah baru buat dunia perfilman nasional untuk lebih maju, gw tetep merekomendasikan untuk nonton film ini.

< >

Ladda Land

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Horror
Adalah benar jika ajakan nonton midnight merupakan hal yang menyenangkan. Benar pula jika nontonnya juga rame-rame. Namun meskipun salah rasanya kalo film yang dipilih adalah HOROR THAILAND, kita tetep penasaran untuk nonton Ladda Land, film yang katanya recommended ini.

Kutipan singkat yang diambil dari situs Blitz Megaplex:

Thee Yang berpikir bahwa jika ia tidak dapat memberikan rumah yang bagus untuk keluarganya, maka ia bukan ayah dan suami yang baik. Ketika ia mendapatkan kesempatan kerja dengan gaji yang lebih tinggi, ia mengambil kesempatan itu dan akhirnya dapat memilih rumah idamannya. Ia pun mengajak keluarganya untuk pindah. Bayangan kenyamanan tinggal di rumah baru itu seketika buyar saat hari demi hari mereka selalu diganggu oleh hal-hal yang misterius yang menyeramkan.


Singkat cerita, dari segi ketegangan, film ini memang cukup juara. Sinematografi dan latar belakang dibuat sesederhana mungkin agar kesan naturalnya dapet, itulah yang bikin gw merasa seolah2 seperti berada di dalam film ini.

Di awal cerita, film ini memang terlihat seperti iklan asuransi atau iklan program keluarga berencana, karena nuansanya keluarga bahagia banget, namun ternyata semua keindahan2 tadi berbalik menjadi sebuah keruwetan yang ga abis2...

Kurangnya film ini, temanya terlalu beraneka ragam, jadi seperti ga fokus dengan satu atau dua tema aja. Masalah keluarga, kerjaan, dan teror hantu begitu banyak dimunculkan di dalam film ini yang bikin gw sendiri stress nontonnya.

Overall, dibanding bengong nungguin film2 box office yang ga jelas juntrungannya atau nonton film2 gajebo, film ini cukup recommended lah ya...

Selamat menonton... ;)




< >